Sejarah Markiz Daarul Qur`an was Sunnah Lipatkain

Kampar Kiri yang beribu kota kecamatan di Lipatkain  adalah kecamatan induk dari Rantau Kampar Kiri yang sekarang telah mekar menjadi 6 kecamatan. Kampar Kiri adalah wilayah yang dulu dibawah kawasan kerajaan Gunung Sahilan yang sekarang mekar menjadi kecamatan Gunung Sahilan. Sebuah Kerajaan dan Rakyat yang memilik semboyan adat istiadat “Adat bersandi Syara’, syara’ bersandi Kitabullah”. Dari sumber sejarah yang ada bahwa masyarakat Kampar Kiri sebelumnya beragama Budha , sejak pedagang dari Gujarat India mengembangkan agama Budha di Kuntu. Ini dibuktikan dengan kuburan raja darah Putih (Gagak Jao) di Koto Tinggi (Sungai Sontan Kuntu) terdapat batu nisan bertuliskan huruf Kawi yang belum bisa diartikan oleh penduduk setempat. Dan setelah itu barulah masuk agama Islam dengan pemahaman Syi’ah ke Kampar Kiri, dan sejak masuknya syaikh Burhanuddin ke Kampar Kiridi Desa Kuntu baru dikembangkan Islam dengan pemahaman Madzhab Asy-Syafi’i dalam Fikih dan Thariqah Naqsyabandiyyah dalam Pengamalan Ubudiyyah, Wallahu A’lam. Terlepas dari valid tidaknya sejarah di atas, namun sekarang kita bisa melihat keadaan keagamaan masyarakat Kampar Kiri. Jika kita perhatikan Kehidupan masyarakat Kampar Kiri tidak terlepas dari Adat Istiadat, Perdukunan dengan segala tetek bengeknya, serta Thariqoh Shufi dalam pengamalan, ‘Asy’ariy dalam ‘Aqidah bahkan sebagiannya Wihdatul Wujud karena pengaruh Keshufian dan Ilmu Kebatinan. Di Kalangan generasi muda,budaya luar pun telah begitu hebatnya mendominasi akhlaq mereka. Maka tidak banyak cucu kemenakan ninik mamak lagi yang memegang teguh adat istiadat jika dipandang dengan kacamata adat itu sendiri. Tapi jika kita berbicara dan melihat dari sisi petunjuk yang turun dari langit malah kita mengatakan bahwa prilaku/akhlak sebagian masyarakat kampar kiri hari ini jauh dari tuntunan Allah demikian pun dengan prilaku adat istiadat masyarakat kampar kiri tempo dulu pun juga masih menyimpang dari tuntunan Sunnah Rasul-Nya. Adat yang didengungkan bersandi Syara’, Syara’ yang bersandi Kitabullah” – hanya dalam slogan – masih jauh dari yang diharapkan. Bukannya Islam mengahapus nilai-nilai istiadat setempat tapi tuntunan adat setempat itu yang masih menyelisihi tuntunan Allah dan Rasul-Nya. Dalam pengamalan ritual, tampak betul pengamalan masyarkat yang masih bercampur baur dengan ritual Budha dan Islam ala thariqoh shufi, bahkan sepanjang yang kami temukan masih terdapat keyakinan Syi’ah yang masih ada pada diri sebagian kecil orang-orang tua di Kampar Kiri yang ahli ilmu kebatinan. Di sisi lain walaupun dalam sejarah-nya  Syaikh Burhanuddin mengembangkan madzhab Syafi’I akan tetapi betapa umat telah banyak meninggalkan prinsip dalam madzhab As-Syafi’i itu sendiri bahkan hanya segelintir kecil yang pernah mengkaji kitab fikih bermadzhab Asy-Syaf’i itu, apalagi yang tekun mempelajari kitab yang ditulis Imam Asy-Syafi’i, semakin hari prinsip beragama Sang Imam Panutan sungguh telah ditinggalkan. Karena itu ketika Sunnah yang sesuai dengan madzhab Syafi’i itu sendiri disebarkan masyarakat malah menganggap itu perkara yang baru diada-adakan bahkan dianggap sesat. Wal ‘Iyadzu billah. Dari sisi mu’amalah dunia, masyarakat hanya segelintir lagi yang peduli halal dan haram. Sebagaimana juga di daerah lain, budaya Yahudi dan Nashrani telah merusak sendi-sendi kehidupan, tak sedikit lagi kasus hamil di luar nikah akibat pergaulan bebas, seribu satu kasus pelanggaran-pelanggaran Agama Allah telah hadir di depan mata. Sementara pusat dakwah dan pendidikan berbasis sunnah yang betul-betul du’atnya yang mengajak umat untuk takut dengan adzab Allah, kembali kepada Qur’an dan Sunnah, yang ikhlash berjihad memikirkan kedaan umat siang dan malam, mengajarkan umat di Masjid-masjid bagaimana tata cara sholat Nabi, cara whudhu’ dan hukum-hukum ibadah lain sangat sulit dijumpai.

Berdasarkan inilah, maka kami pengurus Yayasan Tauhidul Ummah Al-Islamiyyah bersama Ikhwah yang semangat dalam memahami, mengamalkan, dan mendakwahkan sunnah di Lipatkain Kecamatan Kampar Kiri Kabupaten Kampar Provinsi Riau bertekad melangkah dengan bimbingan Asaatidz Ahlus Sunnah bi idznillah untuk menyebarkan Dakwah Tauhid dan Sunnah di Kampar Kiri sekitarnya yang berpusat di Markiz Daarul Qur’an was Sunnah Lipatkain Utara.

Markiz Daarul Qur’an was Sunnah Lipatkain didirikan agar menjadi  pusat dakwah dan pendidikan sunnah di daerah Kampar Kiri khususnya di kenegerian Lipatkain dan sekitarnya. Untuk kegiatan Dakwah berupa Ta’lim, Alhamdulillah sudah berjalan sejak sekitar hampir 5 tahun yang lalu bermula di Mushalla kecil di samping Rumah Ust. Firdaus Basyir dengan beberapa orang remaja dan Ikhwah yang antusias. Kemudian Alhamdulillah ada donatur  yang membantu untuk buat Masjid di tahun 2010 dibawah pengawasan Ustadz Abu Zubeir, Yayasan Ibnu Katsir Pekanbaru, sejak itu kajian-kajian pun semakin rutin baik yang dibimbing oleh Ust. Firdaus Basyir sendiri maupun dari asaatidz Ahlus Sunnah dari Pekanbaru dan dari daerah lainnya. Kemudian dilanjutkan juga dengan Program Tahfizh anak-anak kelas sore dan Alhamdulillah sudah berjalan 2 tahun. Kemudian dengan memohon pertolongan Allah guna memperbesar gerak langkah dakwah bersama rekan-rekan pengurus lainnya. Kemudian dengan bermodalkan semangat dan memohon pertolongan allah mulailah dibangun asrama untuk pendirian pondok atau yang kami populerkan dengan sebutan Markiz Daarul Quran was Sunnah Lipatkain.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s